INDONESIA DIHADAPKAN BENCANA “BODOAMAT” DI TENGAH PANDEMIK COVID-19
INDONESIA DIHADAPKAN BENCANA “BODOAMAT” DI TENGAH PANDEMIK COVID-19
Pada tahun 2020 menjadi tahun yang cukup berat di masa periode kedua Jokowi, kepemimpinan Jokowi-maruf diuji di tengah wabah pandemik Covid-19 yang menjadi momok terhadap porak-poranda ekonomi Indonesia. Pemerintah Indonesia dinilai lamban dalam menyikapi situasi penyebaran wabah, data positif dari hari ke hari melonjak tajam, secukupnya ada hampi 1000 orang positif Covid-19, hal ini menampar masyarakat yang mengikuti anjuran pemerintah untuk karantina dirumah (stay at home).
Kemunculan beragam foto tereksposur di jagat sosial media, mengindikasikan masyakat jenuh terhadap kebijakan tumpang-tindih pemerintah. Kebijakan dianggap melenceng dari anjuran pemerintah yakni adanya kepenuhan di bandara Soekarno-Hatta yang diinisiasi oleh Kementrian Perhubungan atas terbukanya alat transportasi umum, walaupun juga dibarengi protokol ketat akan tetapi kepeadatan di bandara Soehatt tak terelakkan, muncul alasan mendasar oleh masyarakat kecil terhadap bukanya kios-kios dan usaha mereka, kecelakaan disinformasi yang muncul juga diakibatkan oleh bawahan Presiden ketidaksigapan dalam membaca momentum.
Namun waktu terus berlalu dan tibanya pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa ada dua orang warga terkena Covid-19, berdekatan itu juga beberapa masyarakat dihebohkan oleh panicbuying dengan menyerbu beberapa pasar swalayan. Memberikan kesan watak individualis masyarakat untuk bertahan hidup, walaupun pada saat itu pemerintah memberikan himbauan untuk masyarakat tidak “panik berlebihan”.
Sejalan dengan bertambahnya infeksi Covid-19 di Indonesia, implementasi pengurangan aktivitas juga semakin banyak diterapkan. Hampir seluruh sekolah dan universitas di Indonesia menerapkan metode belajar jarak jauh. Beberapa perusahaan juga menerapkan bekerja dari rumah (work from home) kepada para karyawannya. Selain itu, segala aktivitas keramaian termasuk peribadatan di seluruh tanah air sangat diimbau untuk ditiadakan sementara waktu.
Jika kita lihat satu per satu respon hingga kebijakan pemerintah Indonesia dalam respon awal sejak Januari, antisipasi hingga penanganan Covid-19 saat ini, tentu masih sangat jauh dari harapan publik. Di saat negara-negara di dunia menerapkan kewaspadaan tertinggi serta merencanakan upaya maksimal mengantisipasi penyebaran virus di negaranya, Indonesia terkesan terlalu santai dan tidak ada keseriusan sama sekali ketika itu .
Akibatnya banyak kebijakan maladministrasi dihadapi di masa kepemimpinan Jokowi-Maruf, sorotan tajam muncul terhadap “kegagapan pemerintah” oleh lembaga di Australia, dalam tulisan The Sydney Morning Herald, menyoroti kegagapan pemerintahan Jokowi dalam menangani virus corona, terutama dari fasilitas kesehatan. Opini yang ditulis Koresponden Asia Tenggara James Massola itu mengungkapkan bahwa banyak pihak termasuk lembaga akademisi seperti Harvard University sudah mengungkapkan kekhawatiran risiko penyebaran Covid-19 di Indonesia jauh sebelum virus serupa SARS itu terkonfirmasi muncul di Tanah Air .
Sejak awal pengumuman keberadaan positif Covid-19 di Indonesia, publik masih menilai komunikasi yang terjalin maupun kebijakan penanganan mitigasi pemerintah belum maksimal. Koordinasi serta respon cepat dan tepat pemerintah dinilai tidak terkelola dengan baik. Selain itu, prioritas Jokowi dinilai cenderung kepada kebijakan ekonomi (economic policy) dengan mengabaikan kepada keselamatan warganya (safety policy) dalam konteks masyarakat luas.
Maka muncul lah tagar di sosial media Twitter mengenai #Indonesiaterserah, banyaknya tenaga medis gugur menjadi penyebab munculnya tagar tersebut, tagar yang cukup bertengger selama seminggu memberikan kesan condong terhadap para tenaga medis yang berjuang untuk penangan Covid-19 dinilai tidak di hargai oleh kebijakan pemerintah.
Pemerintah dianggap tidak konsisten terhadap penanganan Covid-19 sebab adanya kebijakan “kelonggaran PSBB” (relaksasi PSBB). Sindiran yang dilakukan oleh netizen terhadap realita di bandara Soekarno-Hatta yang menumpuk untuk melakukan perjalanan ke luar daerah, para tenaga medis khawatir pelonggaran ini membuka peluang peningkatan Covid-19. Atas dasar kebijakan pelonggaran PSBB, banyak masyarakat yang beropini dengan mengeluarkan kekecewaan mereka terhadap mencla-mencle kebijakan penangan Covid-19,
"Kesabaran ada batasnya. Konteksnya adalah orang yg berjuang mempertaruhkan nyawa melihat yg diperjuangkan tidak peduli padanya. #indonesiaterserah," tulis akun @i**g*****
"Nyesek kalo liat tenaga medis yg udah berkorban sampe sejauh ini tapi masyarakat nya bodoamat dan nganggep biasa aja. Kaya gak ngehargain perjuangan mereka. Kalo tenanga medis udah bodo amat nasib kalian2 mau gimana? Hampir gila liat orng yg makin seenaknya #indonesiaterserah," tulis akun @i**m****
Selain di jagat dunia sosial, muncul juga perbicangan yang disebarkan melalui media pesan singkat menjadi topik hangat di WhatsApp Postingan di WhatsApp bahkan disertai saran supaya tenaga medis pulang dan berkumpul bersama keluarga. Penanganan bisa digantikan mereka yang tidak peduli pada aturan jaga jarak untuk menekan jumlah kasus infeksi Covid-19, Tidak disiplin dan taat meningkatkan risiko penyebaran virus corona di lingkungan umum.
A.) Kalian tidak mau wabah berakhir ? Sebarkan lah !
Kalian tidak mau distancing ? Berkerumun lah !
Kalian tidak mau tinggal di rumah ? Keluar lah !
B.) Mari kita ganti slogan!
“people stay outside”!
“doctor stay at home”!
C.) Kita tunggu siapa yang bertahan, siapa yang berguguran.
Oleh sebab itu, Indonesia pasrah adalah sebuah ungkapan perasaan oleh banyaknya masyrakat yang kecewa terhadap inkonsistensi pemerintah dalam effort penanganan Covid-19. Harapannya pemerintah sadar akan kebijakan yang dikeluarkannya, jangan hanya berfokus pada sektor ekonomi belaka walau ekonomi menjadi fundamental dalam roda penggerak bernegara, namun keselamatan publik tentu menjadi utama untuk di fokuskan dalam plan kedepannya. Demikian ungkapan tulisan saya untuk mengeluarkan opini atas inkonsistensi pemerintah selama ini, kalo memang ada khalayak tidak setuju dengan tulisan saya boleh kita adu argumen melalui media tulisan. Junjung tinggi intelektual, balas ketidaksetujuan dengan intelek.
Salam hangat
RadithRanda